An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
Home­FAQ­Calendar­Search­Memberlist­Usergroups­Register­­Log in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
   
Latest topics
» [AMERICA] Tea Late at Night
by Keith Warringstate 5th September 2010, 21:07

» [AU] Empty Time
by Li Lian Jie 30th August 2010, 14:09

» En Beskrive Bok
by Ethan Hartmann 28th August 2010, 15:00

» Shena Cherkesovich Medvedev
by Shena C. Medvedev 18th August 2010, 19:28

» [CENTRAL] Pengakuan Dosa (part 2)
by Nikolai Mikhailov 18th August 2010, 15:25

Search found 50 matches for Diavlea S. Goethe

AuthorMessage
Topic: [Pre-event] Allan Amberglass - Diavlea S. Goethe
Diavlea S. Goethe

Replies: 5
Views: 66

Search in: Festive Memories    Subject: [Pre-event] Allan Amberglass - Diavlea S. Goethe    12th July 2010, 09:35
Lea tidak ingat pernah “mendidik” (dalam tanda kutip, saudara) Allan Wynne Amberglass untuk belajar mengejeknya, karena itu dia heran belajar darimana dia? Sudah kelihatan kan kalau Lea tidak punya teman bermain nanti, tahu gitu kan tidak perlu ditanya. Mau mengejek ya? Weeeee.

Desahan kembali lepas, mungkin ia terlalu berprasangka. Bisa saja Allan menanyakannya karena ia ingin mengajaknya main, kan? Yah—bermain bertiga juga tidak masalah. More the merrier, kata orang. Ia akui kali ini dia salah karena berpikiran aneh-aneh—ngambek, belakangan mudah sekali ia kesal padahal masa haidnya sudah lewat.

Setidaknya Lea menaruh harapan kalau Allan akan mengajaknya main..

"Hmmm, jelas itu jadi urusanku sekarang,"

Ho?

"Karena aku ingin pergi bersamamu ke Valentine Ball nanti."

Oh.

…benar kata orang, sekali-sekali berpikir positif tidak ada salahnya. Ekor matanya mengikuti gerakan macaron coklat yang diambil Allan—dan sejak kapan anak itu jadi suka buang-buang makanan?—tidak bereaksi saat keheningan melanda dan saat macaron itu dimainkan. Mungkin malah perhatian Lea lebih ke si macarel sekarat daripada ke perkataan anak didiknya.

‘Pluk!’

Macaron kembali diletakkan dalam keadaan sekarat. Hebat kau, Allan. Kenapa harus menghancurkan makanan tak berdosa hanya untuk mengajak seorang gadis ke pesta dansa? Dan macaron itu kembali di tekan.



“Allan, ada apa dengan macaron itu? Memangnya dia menyelinap ke tempat tidurmu?” menilai macaron itu sudah tidak pantas dimakan, ia mendesah, “mau,” tapi bukannya aku mau dansa. “tentu saja aku mau,” mau bermain, maksudnya. “Kukira kau sudah ada teman.”

Baguslah kalau tidak ada.
Topic: Daftar Pemilik Karakter
Diavlea S. Goethe

Replies: 14
Views: 740

Search in: Registration Room    Subject: Daftar Pemilik Karakter    11th July 2010, 08:21
Alias: Kumohare[n]
  • Lioret I. Shirogane
  • Io Sobillatore
  • Carol F. C. Forskina
  • Mario C. Demeska
  • Diavlea S. Goethe
  • Rufina Kviscanova
  • Katerina Efcileisthenes
  • Philander Granville
Topic: [Pre-event] Allan Amberglass - Diavlea S. Goethe
Diavlea S. Goethe

Replies: 5
Views: 66

Search in: Festive Memories    Subject: [Pre-event] Allan Amberglass - Diavlea S. Goethe    5th July 2010, 10:15
“Huh!”

Ngapain Allan ke sini? Pasti dia hanya ingin mengejek Lea karena tidak punya teman main di Grand Ball nanti. Iya deh iya deh yang punya pasangan, syuh syuh, jangan ganggu Lea. Lea sedang makan—kau tidak lihat? Rasakan jasmu kotor. Biarin, biarin! Weee!

Dalam dua tegukkan, Lea menghabiskan gelas coklat panasnya yang ke-3, siap menghabiskan kue coklat yang menunggu tidak jauh di depannya. Ia mengambil garpu kecil dan mulai memotong kue coklat itu kecil-kecil dan memasukkan ke mulutnya. Meski ekor matanya melihat Disciple-nya sendiri melipat jas dan duduk di sebelahnya, Lea seratus persen mengacuhkannya. Hmph.

"Kau makan ini semua, Lea?"

“Hu—”

"Oh iya, Valentine Ball nanti kau pergi dengan siapa?”

…tuh kan.

Memasang wajah cemberut—tidak suka. “Memangnya urusanmu apa kalau aku pergi dengan orang lain atau tidak?” kembali mengunyah kuenya. Sebodo ah.
Topic: [Pre-event] Allan Amberglass - Diavlea S. Goethe
Diavlea S. Goethe

Replies: 5
Views: 66

Search in: Festive Memories    Subject: [Pre-event] Allan Amberglass - Diavlea S. Goethe    30th June 2010, 12:13
Valentine? Apaan tuh? Mwahahaha!

Lea 'membuang' berita dari chief supervisor di Eropa saat dan dengan senang hati melanjutkan makan siangnya. Saat itu di depannya terhidang banyak banyak sangat banyak coklat! Coklat cake, susu coklat, sandwich coklat, sampai kari India yang ditambah coklat juga ada~! Makan~makan~makaaan~! Saat makan harusnya makan~ kecuali kalau ada perintah misi yang diberikan, saat itu Lea wajib menghabiskan semua coklatnya sebelum makanan lain. Ah, Lea memang cinta coklat~

Lain soal kalau kasusnya seperti tadi. Ada pesan yang melayang kepadanya dan tidak sangat tidak penting. Katanya pesta? Katanya bukan misi? Oh, peduli amat, bicaralah sana aku mau makan, hwahahaha~ Tapi ngomong-ngomong katanya mereka harus datang? Oya, ini kan pesta, berarti ada banyak makanan, banyak musik, banyak orang. Pesta~pesta~pesta~! Hapus bagian dansanya dan akan lebih menyenangkan. Mwahaha~ satu, Lea tidak bisa dansa, dua, Lea mau berdansa dengan siapa, sih? Pasti semuanya sudah mempunyai pasangan. Ya ya dasar anak muda. Ckckck. Eh Lea, kau kan masih muda juga? Berarti kau juga harus punya pasangan, dong?

Hah?

.
.
.

Malas ah.


Pukul lima sore, sebetulnya ini bukan waktu makanya, tapi karena sedang sepi misi dan.... dan...

..oke, Black Order sedang ramai denga aura Lovey Dovey yanf aneh sampai Lea nyaris kehilangan nafsu makannya. BAGAIMANA TIDAK? Astaganagademiayambertelurcoklat. Mentang-mentang tanggal 7 nanti mereka akan beragkat ke cabang Eropa, semua muda mudi sudah menyiapkan pasagannya dan lengkap dengan paket mesra-mesraan di koridor, blushing setiap melihat satu sama lain. Wawawawa~ anak muda, anak muda~ckckck. Kau kira gadis ini peduli? Tidak. Sama sekali tidak.

Lea menyeruput coklat panas ke-3nya sore ini, duduk manis di kafetaria sabil memikirkan kira-kira berapa porsi makanan yang bisa ia habiskan nanti. Tapi kalau makan sendiri tidak seru! Mungkin ia harus menantang orang lain lomba makan? Tidak, tidak. Semuanya pasti sudah sibuk dengan pasangan masing-masing. Bagaimana dengan Allan? Halah, dia pasti sudah dengan gadis lain.

......

Ngek.

YA TUHAN DAN SELURUH PENGHUNI BLACK ORDER AMERIKA, SISAKAN TEMAN MAIN UNTUK LEA DONG! DASAR SEMUANYA KEJAAAAAAAAAAM!!

HAP!

Aksi penutupan mata oleh seseorang tidak jelas membuatnya lumayan kaget, yaiyalah orang lagi makan kok diganggu sih. Graaaa! Dan secara sengaja akhirnya Lea mengangkat tangan dan menumpahkan isi coklat susu yang tinggal seperenam ke belakang melewati kepalanya yang ia kira adalah kepala si pengganggu acara makanya. Biar tau rasa!

"Mau apa kau, Allan?" balasnya setengah cemberut. Si Chon-Chon satu ini mah..

Pasti sudah ada teman dansa jadi tidak bisa menemaninya main.

Bah.
Topic: [AMERICA] Hard Cold Battle
Diavlea S. Goethe

Replies: 42
Views: 833

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] Hard Cold Battle    6th February 2010, 23:25
Quote:
Diavlea S. Goethe
HP: 8*1000 = 8000
ATK: 188
BLK: 140
STR: 11


Wah, semuanya sudah mulai. Pertama Exorcist berwajah oriental—Dai Fong—mengeluarkan kipas, Innocence-nya, yang Lea sangsikan cukup berat dan..memangnya tidak berat tuh? Itu kan cukup memperlambat. Err—yah, mungkin bagi Exorcist pemegangnya beratnya berkurang—tapi tetap saja terlihat berat, sudahlah. GRAAAAA.

Lalu Gray dengan Innocence tipe parasit yang membuat kakinya seperti dikelilingi arus listrik—jujur saja, Lea pikir tadinya pemuda itu menyimpan belut dalam sepatunya—dan William yang ikut mengaktifkan Innocence-nya. Rasanya seperti ia dan Eva mendapat tempat ’VIP’ di pojokan sini. Betul juga sih kata Eva, kehadirannya mungkin membuat yang lain agak err—gimana bahasanya?

"Baru saja aku mengirim seekor timcanpi ke dapur, meminta mereka menyiapkan seloyang pizza penuh parutan keju dan daging asap untuk Anda, General."

—and the battle begins

Matanya masih terarah ke pertarungan yang sedang berlangsung di mana dua Exorcist yang lain—Wil dan Allan si Chon-Chon—sudah mengaktifkan Innocence mereka. Kedua tangannya lurus menyentuh bangku pada kanan dan kiri tubuhnya sementara kedua kakinya yang—maaf sekali—tidak sampai lantai area “bergelantungan” begitu saja. Tampaknya alih-alih seperti menonton sparring antar Exorcist yang membuat orang agak merinding, gadis itu menikmati setiap adegan di depannya.

Senyum masih terlukis di wajahnya, termasuk saat Eva memberitahu soal pizza yan ia tawarkan tadi. “Pizza~! Cocok sekali untuk snack kita kali ini ya. Hahaha~” rasanya seperti menonton teater saja. Namun tubuh kecil itu sedikit bergeser. Tangannya terulur bersamaan dengan dirinya yang melompat—sekarang berdiri di atas bangku.

“Evaaaa, kau panggil aku apa tadi?” berusaha menggapai rambut wanita di sebelahnya. Tidak ada nafsu menginjak—ia hanya ingin menjambak. Yaaaa, menjambak! Awas saja kau Eva.

Guest carried out 1 launched of one 6-sided Die (Image not informed.) :
5
Topic: [AMERICA] All About Tea
Diavlea S. Goethe

Replies: 20
Views: 376

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] All About Tea    4th February 2010, 20:49
PRANG!

Nah. Loh.

“Astaga, Wil, gelasnya pecah loh,” alih-alih menyodorkan penadah seperti baskom atau ember, untuk Exorcist yang muntah-muntah di depannya, Lea berjongkok mengumpulkan pecahan gelas malang itu dan menampungnya dalam sebuah piring besar. Sayang sekali, padahal gelasnya bagus. Huuuh...pokoknya Wil harus membersihkan semuanya!

“Minumnya pelan-pelan, masih ada banyak kok~” lanjutnya, mempertimbangkan apa ia akan memberikan Wil kesempatan kedua untuk mencicipi gelas teh selanjutnya. Atau ia perlu menambahkan es batu..?

"Anda tidak apa-apa Learicchi?"

“Sangat baik-baik saja, tapi gelasnya tidak ‘baik-baik saja’,” menghela nafas pendek, seakan gelas itu adalah harta berharganya atau apa. “Lain kali akan kutambahkan es batu, saat itu kalian harus mencobanya, ya?” tersenyum cerah, jelas sekali memaksa kedua Exorcist tersebut untuk menjadi kelinci percobaannya nanti.

Ah~! Kali ini Arthem menawarkan teh buatannya sendiri, tentunya General asal Kanada itu tidak mungkin menolak, bukan? “Ayo Arthem buat~!” –kalau bisa ditambahkan coklat, ehem.
Topic: [AMERICA] Project UBAH
Diavlea S. Goethe

Replies: 61
Views: 1329

Search in: Bookman's Records    Subject: [AMERICA] Project UBAH    4th February 2010, 20:34
Senyum gadis itu melebar saat Eisen meletakan cangkir gelasnya di meja. Dengan kedua tangan di pinggang, menatap Jendral asal Belanda dengan agak tidak sabaran, sedikit unsur persuasi sebagai tanda kemenangan karena telah berhasil menyeret yang bersangkutan dari belakang meja kerjanya. Lea menunggu sampai Eisen sampai di depan pintu ruangannya sendiri—memastikan pria itu tidak mengurungkan niatnya—sama tidak sabarnya dengan bayangan perubahan markas Amerika nantinya.

Pintu diketuk dan terbuka tepat pada waktunya, Lea mengambil beberapa langkah lebar untuk melihat siapa yang datang. “Hai Chrys~!” senyum—sangat—gembira di wajah si gadis Kanada. “Aula bulat sedang ramaikah?” pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, tentunya. Tak lama setelah Eisen mempersilahkannya dan Chrys untuk pergi duluan, gadis itu segera berlari keluar tidak sabar melihat apa yang terjadi di aula bulat.




[Aula Bulat]

“ASTAGA LUPUS MACHO SEKALI!!” gadis itu tertawa lebar yang nyaris membuat matanya tertutup saking tidak tahannya. Jelas ia menikmati proyek yang kurang jelas ini—ditambah patung setinggi sekitar 12 kaki yang membawa bukti REVOLUSI cabang Amerika Utara – Selatan. Kyahahaha~! Ditambah dua orang yang sekarang berfoto-foto ria dengan benda penemuan abad ke-17—kamera, nampaknya proyek ini malah seperti sebuah pesta.

“Estrella, Eva~!” serunya, memanggil kedua Exorcist wanita itu, “patung ini keren sekali! Siapa yang buat?” memandang kagum patung ‘mengerikan’ yang berdiri tegak di tengah aula. Justru membuat aura disekitarnya menjadi agak heroik. Heroik darimana pula?

Bola matanya kembali menebarkan pandangan ke seluruh penjuru aula bulat, menangkap beberapa sosok yang ia kenali di sana dan satu hal sukses membuatnya tertarik. “Eh, ini bunga apa?” bertanya riang menghampiri sebuket besar bunga yang dipegang seorang staff—yang ia tidak ketahui namanya. Ia yakini itu milik Eva atau Estrella, karena...sepertinya tidak ada orang lain selain mereka di aula bulat ini yang berinisiatif membeli bunga sebanyak ini.

Celingukan sebentar, berhenti pada Lupus di ujung sana.

Ups. Pfffftt—
Topic: [AMERICA] Hard Cold Battle
Diavlea S. Goethe

Replies: 42
Views: 833

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] Hard Cold Battle    28th January 2010, 21:20
Hukumnya, jika ada sesuatu yang masuk ke dalam arena latihan itu, pasti perhatian semuanya akan teralih pada sesuatu yang baru itu. Tampaknya 'hukum' ini juga berlaku padanya yang hanya nyengir kuda dan melangkah masuk ke dalam arena--tidak lupa menutup pintu di belakangnya.

"Oke, Chon-chon. Nanti kutraktir coklat," balasnya atas persetujuan anak didiknya, Allan, si Chon-chon. You call me 'Puny', I call you 'Chon-chon'. Ngomong-ngomong, dapat darimana dia kata 'Puny' itu, hm? Pertanyaan yang sama untuk Lea. Dan tampaknya mereka sama-sama tidak tahu artinya.

Tampaknya masing-masing dari mereka memberikan respon yang berbeda. Sayangnya gadis Kanada ini tidak terlalu memperhatikan karena...suatu tawaran surgawi dari Eva yang menghampirinya. Pizza. Kalau kau percaya pada yang namanya 'kontak batin', mungkin ini salah satu praktek nyatanya--halah. Kontan ekspresinya menjadi lebih cerah seakan memancarkan aura positif seorang anak kecil; menatap Eva dan mengangguk cepat, "pizza! Aku memang mencarimu untuk itu, Eva. Ayo kita duduk saja," cepat sekali pikirannya berubah.

Saat wanita Italia itu menyemprotkan racun dari Innocence-nya, gadis ini sudah duduk di salah satu bangku di ujung arena latihan. Tempat istimewa? Untuk sekarang, sebagai penonton. Mungkin nanti ia akan bergabung juga?




((OOC: sesuai janji, masuknya ntaran. Jadi tidak perlu tag HP, OFF tralala itu, kan? :3 *pelototin pizza* ))
Topic: [AMERICA] Hard Cold Battle
Diavlea S. Goethe

Replies: 42
Views: 833

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] Hard Cold Battle    27th January 2010, 20:48
((OOC: ikut :3. Timeline setelah All About Tea kali ya? :3 *ragu*




Tangan kanan merogoh saku rok seragam Black Order-nya. Tidak ada apa-apakah di sana kecuali sebilah pisau pendek sederhana berukuran sangat kecil? Paling tidak ia mengharapkan ada sesuatu yang menyenangkan dalam sakunya. Hari ini ia sudah terlalu banyak makan coklat, jadi mari kita coret ‘coklat’ dari list. Sesekali ia ingin coba makan pizza yang katanya sedang marak di Eropa. Apa sih isi makanan roti-tumpuk-daging itu? Enak atau justru menjijikan?

Sayangnya benua Amerika belum menjangkau Eropa—paling tidak kulinernya—untuk mendapatkan resep Pizza. Kapan sih penduduk Italia datang ke Amerika untuk membocorkan resep Pizza? Lea kan mau coba juga. Eh bukan berarti dia yang masak. Mungkin nanti ia akan meminta staff di dapur untuk mencoba membuatkan. Mungkin..

Bicara soal Pizza dan Italia, bukannya di cabang Amerika ini ada yang berkebangsaan Italia, ya?

Tanpa pemikiran bahwa mungkin saja Eva Montini yang dimaksud tidak mengetahui resep Pizza, ia mencari wanita maniak fashion itu ke seluruh penjuru Black Order. Pemuasan, tentu saja. Apa sih yang lebih menggetarkan selain ambisi?

By the way, ke mana Eva?

Ia kira wanita itu akan berada di kamarnya atau di dapur juga (?) atau malah...sedang keluar? Mengingat kebiasaan si wanita yang suka memanfaatkan lambang Cross Black Order untuk berbelanja itu, mungkin saja ia memang sedang di kota. Atau justru sedang dalam misi? Entahlah. Tapi ada satu tempat yang belum kau lihat, Lea.

“Eva, kau di sini?” menjulurkan kepalanya ke dalam area latihan. Dan tentu saja, ia menemukan Eva lengkap dengan parasolnya di sana—beserta beberapa Exorcist lain. Bola matanya melebar secara drastic, saking senangnya melihat orang begitu ramai di area latihan. “Wah ramai, ya~ Boleh ikutan?”

Tampaknya ia melupakan tujuan awalnya.
Topic: [AMERICA] Project UBAH
Diavlea S. Goethe

Replies: 61
Views: 1329

Search in: Bookman's Records    Subject: [AMERICA] Project UBAH    27th January 2010, 20:21
For the sake of Dew Laden Moss.

Tipe orang yang sulit diajak berdebat. Iya sih, lagipula sejak kapan dia juga jadi suka berdebat begini? Ide menghias dengan barang pribadi itu mungkin memang agak tidak wajar karena—mengalihkan pandangannya keluar ruangan—seperti kata Eisen, markas ini terlalu-sangat-sangat luas untuk dihiasi dengan barang pribadi. Barang pribadinya juga sedikit sih, ia bukan kolektor, tahu. Paling kolektor coklat—kau kira menghias markas dengan coklat itu ide bagus? Yang ada jadi markas semut, tahu.

Dan ia hanya mendengus, tahu bahwa otaknya tidak dapat menemukan bahan argumen yang tepat. “Barang pribadimu...?” Lea, tersenyum simetris, kurang lebih dapat menebak..maksudnya. Oke.

Sepertinya ia tidak akan memiliki waktu untuk meminum teh, karena tubuh kecilnya melompat dari meja kerja Eisen—yang masih asik dengan mawar ungunya—dengan kedua tangan di pinggang. “Nah, Eisen, kau mau diam di kantormu saja? Aku mau keluar, penasaran yang lainnya sedang apa. Mau ikut?” masih dengan senyum mengembang. Hei, masa otak dari proyek ini diam di balik meja, sih? Ga seru.
Topic: [AMERICA] All About Tea
Diavlea S. Goethe

Replies: 20
Views: 376

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] All About Tea    27th January 2010, 20:21
“Terlalu kental?” dahi mengkerut tanda tidak percaya dan mulai menggerakan sendok yang tadi ia gunakan untuk mengaduk. Tidak juga ah, cair tuh. “Yang benar?” aduk lagi, angkat-angkat sedikit. Aww—apa itu yang naik belakangan? Tampaknya pemuda itu benar—kekentalan. Harus ditambahkan apa kalau kekentalan, eh? Air? Hmm..

Maju selangkah dua langkah, kembali mengangkat kakinya dan—

JDUAK!

“Memang nama ‘Lea’ sebegitu sulitnya disebut, ya?” ucapnya sambil lalu. Kali ini ia berhenti di depan meja dengan panci teh-yang-katanya-kekentalan, mengambil salah satu kendi di sana tanpa tahu isinya apa. Sayangnya dia memang tidak cukup tinggi untuk melihat apa yang ada dalam penampung air itu. Jadi yah, dia hanya berusaha mengangkat kendi itu sambil berjinjit dan menuang apa yang ada di dalamnya ke dalam panci.

Isinya apa, ngomong-ngomong?

Putih. Oyey. Apa itu? Entah.

“Cairan apa ini?” menggumam kebingungan meskipun ia masi membiarkan tangannya bergerak untuk mengaduk teh kekentalannya yang agaknya mulai sedikit lebih cair. “Tampaknya ini susu. Nah, sudah tidak kental. Silahkan~” kembali mengambilkan gelas baru dan mengisinya setengah. Sepertinya ia baru saja menemukan resep teh baru. Nyahaha~
Topic: Suppi yang berlari bersama gambarnya
Diavlea S. Goethe

Replies: 6
Views: 192

Search in: Art Exhibit    Subject: Suppi yang berlari bersama gambarnya    27th January 2010, 20:06
*pelok kenceng2*

SUPPI, MAKASIH :x:x

*capcicupsiggnya* <3<3<3




*sepak untuk sigg di spoiler, tapi tetep klik-kanan-save**disepak baliK*
Topic: [AMERICA] All About Tea
Diavlea S. Goethe

Replies: 20
Views: 376

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] All About Tea    22nd January 2010, 14:59
Hooo, ternyata ada juga orang yang alergi wine, toh. Tidak masalah, Lea tidak akan memaksamu, kok. Gadis itu lumayan—atau setidaknya menghargai—hak hidup manusia juga meskipun sedikit penasaran apa yang akan terjadi pada Arthem jika pemuda itu meminum tehnya yang notabene mengandung sebotol wine. Mengangguk pelan tanda mengerti tapi diam-diam dalam pikirannya merancang taktik memasukan paling tidak segelas wine ke dalam makan siang pemuda itu. Apa Arthem Seravine akan bentol-bentol atau bisulan, setelahnya?

Dengan menunduk kecewa, ia berkata kepada Exorcist berambut hitam itu, “sayang sekali, kalau begitu lain kali akan kubuatkan teh tanpa wine.” Serius, loh.

Sekarang kita urusi Wil yang tampaknya agak sungkan tapi gesturnya mengatakan bahwa ia mau, paling tidak dalam sudut pandang Lea ia bisa mengetahui bahwa pemuda itu ingin meminum tehnya. Tidak alergi apa-apa, kan? Ayoolaaah, jangan tolak permintaan seorang Lady, ‘kay?

"Well then Lea, it will be a pleasure..."

God Bless You, dearie. Senyum gembira tampak pada wajah, termasuk mata kehitaman yang tampak berbinar karena senang. Tanpa banyak bicara, langsung ia mengambil sebuah gelas dan mengisi gelas itu sampai penuh—dengan berjinjit—lalu memberikan gelas itu pada Wil. “Silahkan~”

Percayalah bahwa teh itu enak. Setidaknya..percaya sajalah dulu. Nyahaha.
Topic: [AMERICA] All About Tea
Diavlea S. Goethe

Replies: 20
Views: 376

Search in: Incomplete Tales    Subject: [AMERICA] All About Tea    16th January 2010, 19:55
Ah jahat—Lea dengan mata hitamnya menatap cairan kecoklatan dalam pancinya. Kenapa sih semuanya menolak meminum tehnya—jahat. Tsk. Apa karena penampilannya yang kurang meyakinkan untuk bisa disebut sebagai ‘dapat memasak dengan baik’? Maka untuk membuktikannya, gadis berkebangsaan Kanada itu mengambil gelas, tanpa mematikan kompor, ia menuang isi panci itu dengan sendok besar. Seketika gelas yang ia genggam menjadi agak hangat tapi kemudian ia meminumnya.

Apa yang ia rasakan?

Terkikik. “Tapi aku suka kau panggil aku ‘Learinrin’,” sahutnya, dengan mata mengembang karena rasa manis yang ia rasakan—mungkin hanya ia yang merasakannya. Dalam hati ia berdecak kesal..memangnya ada yang salah dengan tehnya? Toh ia tidak memasukan kecoak atau belalang.

“Isinya?” berujar pelan, menanggapi pertanyaan baru Wil. ”Daun teh, air, gula,” menyeruput tehnya yang agak mengental, “garam, wine, madu, coklat,” jarinya bergerak bergantian seraya ia menghitung bahan-bahan yang dimasukan. “Tadinya kupikir tidak enak, karena terlalu banyak garam jadi agak asin, tapi setelah ditambah madu dan.. coklat, rasanya fantastis!” tambahnya dengan penuh percaya diri, dengan penekanan pada kata coklat.




((OOC: Lea itu tasteless, beware =)) ))
Topic: Diavlea Shiva Goethe
Diavlea S. Goethe

Replies: 52
Views: 790

Search in: Black Order Database    Subject: Diavlea Shiva Goethe    16th January 2010, 19:44
Menambahkan bagian 'tambahan' pada informasi tambahan, riwayat post-BO dan relasi :3
Back to top 
Page 1 of 4Goto page : 1, 2, 3, 4  Next
Jump to: