| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| Search found 82 matches for Shion R. Herleifursdóttir | | Author | Message |
|---|
Topic: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 11 Views: 111
| Search in: Festive Memories Subject: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir 27th July 2010, 18:31 | Aish..
Tangan menunjukkan gestur untuk pemuda itu pergi dari kamar ini saja sekarang ini daripada membuat suasana lebih 'menghangat' dibandingkan dengan yang ada sebelumnya. Urusan yang ternyata berujung pada hal ini toh. Ia sendiri hendak kembali meneruskan aktivitasnya, karena tidak mungkin juga menahan si pemuda lama-lama disini. Sampai dirinya akhirnya mengambil sebuah bantal lagi dan melemparnya ke arah pintu yang sudah menganga terbuka dan kembali tertutup setelahnya, dengan kepergian rekan sesama disciplenya tersebut. Hal ini—tentu saja dia lakukan juga karena kalimat aneh dengan ledakan tawa yang membuatnya spontan melakukan hal tersebut.
BAK!
Cih, tidak kena.
"Aku tidak akan memakai gaun untuk membuatmu malu nanti!"
Syiiit.
Menggenggam salah satu bantal tersebut dalam pangkuannya. Shion serius, sungguhan memakai pakaian badut kalau perlu. Walau mungkin akan membuat dirinya juga yang malu. Di balik itu semua, ia mengulas senyum kecil, tak menyangka sebuah rasa senang sedikit menggenapi moodnya saat itu.
Mari kita tunggu acara itu nanti.
[FIN]
PS: Agak terlambat sih
| Topic: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 11 Views: 111
| Search in: Festive Memories Subject: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir 15th July 2010, 23:48 | "Oh, umm oke.."
Menggangguk setuju saja, terutama karena ia memang tidak tahu harus berkata apalagi selain hal tersebut. Apalagi—yes, kalau kau tanya apakah dirimu yang mengajak Shion pergi menuju pesta macam ini adalah hal yang aneh, sejujurnya adalah—iya. O-oke, Shion sendiri yang juga mengalami beberapa pertemuan aneh bin ajaib denganmu, dibumbui dengan insiden-insiden kecil yang perlukah diingat kembali? Tidak tentunya. Jangan semakin menghancurkan atmosfer yang ada.
Sempat bingung dengan bagian kapok taruhan dengan Allegra tersebut. Mungkin maksudnya kapok karena tenaga Allegra yang seperti babon itu? Ah apapun itu terserahlah, ia hanya menginginkan kejelasan dari ajakan tadi. Tidak serius sama dengan silakan keluar dari kamar ini dan tunggu mood Shion membaik seminggu ke depan selanjutnya. Haruskah ia percaya? "....", setidaknya Lio tak akan berbohong jika sudah—merona seperti itu.
(blush)
"Ke-kenapa wajahmu me-merah", tak lihat wajahmu sendiri Shion? Mengerling ke arah lain, berusaha menyembunyikan fakta sesungguhnya bahwa dia sendiri turut terbawa emosi memalukan. Serius? Err, ya Shion—serius jika Lio juga serius mungkin? Err, jawab apa jadinya? Ja-jadi bingung dan—argh! Ini bukan sifatmu kan Shion!
"Se-serius tentu saja! Jangan bertanya aneh-aneh begitu!", malah melempar bantal Allegra ke pemuda tersebut. Salah tingkah? Kemungkinan besar. | Topic: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 11 Views: 111
| Search in: Festive Memories Subject: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir 12th July 2010, 14:47 | Dia yang terlalu bodoh atau hanya berusaha menghindari sebuah topik yang kiranya cukup dapat membuatmu—merona merah. Halah, merona merah karena membantu kenalan untuk berpasangan apa hubungannya coba? Aih Shion hanya berusaha berbuat baik disini kok. Namun kalau tidak salah Allegra sudah mempunyai pasangan kan? Eh berarti Lio terlambat dong? "Ah teguhkan hatimu", bergumam lirih, tidak akan terdengar mungkin, hanya sebuah kata hatinya saja, tak usah pedulikan.
Ahaha.
Oh maksudnya yang diajak Shion?
"Begitukah?", masih tersenyum lugu.
......
Errr, tunggu dulu.
Tadi itu Lio berkata apa?
Wajahnya terasa meledak. Entah malu karena salah atau karena ajakan yang ternyata ditujukan untuk—nya. Lio disantet Allegra-kah hingga mau mengajaknya seperti ini? Takut-takut rona merah yang sempat menghiasi wajahnya tadi seketika langsung berubah menjadi sebuah ekspresi heran. "Kau sungguh tidak demam Lio?", berkata sayang pula, walau ada kata penekanan seakan pemuda itu terlihat kesal sekali sih. Bukan Allegra toh. Bergerak tak tenang di posisinya sebelum akhirnya memilih untuk berdiri saja, menjauh entah kenapa. "Kalau hal ini dijadikan taruhan dengan Allegra—tidak lucu lho Lio", menggerakkan jari jemarinya gelisah.
Ia hanya bingung.
"Tapi aku mau..", berbisik lirih, berharap ajakan itu sungguh nyata dan bukan sekadar permainan belaka. | Topic: [CENTRAL] Continuation | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 15 Views: 231
| Search in: Bookman's Records Subject: [CENTRAL] Continuation 11th July 2010, 22:52 | Lalu?
Apalah kata-kata itu—tidak berguna untuk yang sekarang hm, Lio?
Kenapa? Tak ada lagi kalimat lain selain—kau gadis yang kusayangi sebagai adik sendiri. Memangnya apa yang kau harapkan selain hal macam itu Shion? Dirinya masih tidak ingin menatap wajah sang murid didik dengan predikat master yang sama. Karena ia sendiri yang mengusirnya pergi. Dan kenyataannya? Ia pergi tuh. Beristirahat. Tersenyum. Bagaimana caranya ia melakukan hal seperti itu dalam kondisi seperti ini, bodoh? Tak mempedulikan tatapan yang melayang ke dalam dirinya di ruangan itu.
Dua kali.
Ketika pertempuran waktu itu, dan sekarang. Ah sudahlah, ia sudah mulai muak dengan semua ini. Berdiri dari peraduannya. Kompres es ia letakkan di salah satu meja yang kiranya paling dekat dengan koordinat tempatnya berdiri sekarang ini. Terima kasih? Tidak, ia hanya ingin berbaring di tempat tidur kamarnya dan melupakan segala yang telah terjadi kali ini. Dan mungkin—akan lebih bagus kalau ia hilang ingatan sekalian.
Amin.
[OUT too] | Topic: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 11 Views: 111
| Search in: Festive Memories Subject: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir 11th July 2010, 22:41 | Mengernyit.
Lama-kelamaan tak aneh lagi kan jika Shion menduga pemuda di hadapannya sudah—sedeng? Tingkahnya jelas menunjukkan sih. Fufu, bercanda Lio. Nah, nah, jadi? Apa maksudnya datang kesini sih? Sakit—tidak, karena jelas orangnya sendiri mengatakan tidak apa-apa kok. Eh, tolong ya, Shion itu masih gadis polos enam belas tahun yang tidak dianugerahi kemampuan membaca pikiran untuk memahami apa maksud gelagatmu sekarang ini tahu, Lio (PM brb ngakak *shoot*).
Memangnya apa yang menjadi tambah panjang jika kau hanya berbicara saja coba? Terkadang Shion tidak mengerti maksud tindakan Lio yang agak bertele-tele. Tahu maksudnya? Tidak langsung ke inti pokok pembicaraan. Oh well, sekarang sih sepertinya iya, walau gelagat tidak. Dia tidak mengejekmu ngomong-ngomong. Walau begitu dirinya sendiri menurut dengan diam, siap mendengarkan apapun yang dikatakan. Kalau masih lebih lama dari ini, lebih baik Shion mengambil sebuah buku dan membacanya seraya menunggu Lio mengucapkan—
—ajakan ke pesta dansa.
He-eh.
......
Halo? Ada yang salah makan disini? Shion masih terdiam, mengerjap dua-tiga kali sebelum, "Bersamamu dengan mengajak Allegra? Oh boleh-boleh saja, kau ingin bersamanya kan? Nanti akan kuberitahu dia supaya berpasangan denganmu kalau begitu. Hanya itu yang ingin dibicarakan?", tersenyum polos seraya menelengkan kepalanya. Ah nadanya sungguh-sungguh lho, kalau mereka memang ingin berpasangan mengapa tidak?
Agak kesal sedikit sih karena hal itu.
Atau ada yang bisa mencium seorang gadis yang sengaja mengalihkan fakta dari kenyataan yang sedang terjadi sekarang ini?
| Topic: [CENTRAL] Continuation | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 15 Views: 231
| Search in: Bookman's Records Subject: [CENTRAL] Continuation 30th June 2010, 19:58 | Sebenarnya siapa yang salah?
Entah dirinya yang memang hanya bisa meluapkan emosi secara brutal seperti ini—atau Lio yang seakan tak pernah berusaha memahaminya. Jujur saja ia masih tidak mengerti apa perasaan suka, menjalin kasih hingga akhirnya bersama berdiri di hadapan altar putih, di bawah naungan persetujuan Yang Maha Kuasa. Ia tidak tahu bagaimana kedua orang tuanya bertemu. Bagaimana Faðir bisa mengalami rasa jatuh cinta pada Móðir dan bagaimana mereka akhirnya memutuskan untuk menikah hingga melahirkan seorang Shion. Apakah seharusnya ia tak usah terlahir di dunia ini? Dengan mengorbankan nyawa sang Bunda disertai dengan kematian anggota keluarganya yang terakhir setelahnya.
Ia membawa malapetaka.
Wajah masih belum mengeluarkan niat untuk dihadapkan pada sang pemuda. Sementara itu wajah bekas tamparan tadi kembali terasa perih, terutama karena cairan merah juga mengalir dari bibirnya. Haruskah ia gigit lidahnya sendiri juga untuk mengakhiri semua ini? Samar-samar mendengar langkah kaki menjauh, entahlah yang pergi adalah Lio yang menjadi masalah utama baginya disini—atau staff wanita sok tahu tadi. Ia tahu perempuan itu hanya berusaha baik padanya, sayang sekali Shion tak mengenal kasih seorang Ibu. Kalau tidak airmata pun tak akan mustahil ia jatuhkan karena akhirnya dapat mengalami hal yang terus dicarinya selama ini.
Dicarinya?
Apa yang dicarinya?
Balas dendam?
.....
Pada siapa? Untuk sesaat dirinya merasa sangat tidak berguna. Dia yang tidak mempunyai tujuan hidup sama saja dengan kehampaan yang tiada akhir kecuali dilenyapkan langsung bersamaan dengan jiwa yang dimilikinya. Ruang Infirmary itu—menyimpan pisaukah? Walau sepersekon berikutnya merasakan keberadaan tubuh yang mendekatinya, sedikit menggeser letak kursinya karena tak ingin lebih dekat dengan siapapun yang berusaha mengurangi jarak tersebut. Tangan terasa digenggam, meronta, ia tak ingin memperlihatkan wajahnya yang cukup pucat sekarang ini. Namun tentu saja, tenaganya tidak ada, menyebabkan genggaman tersebut lebih kuat untuknya mengalihkan pandang karena tidak mau menatap sosok yang ternyata adalah Lio tersebut.
"Pergilah", bisikan lirih.
Tak menduga bahwa tindakan selanjutnya yang ia dapat adalah tarikan pada dagunya dengan rasa yang menghapus sepercik darah di bibirnya. Sentuhan yang dulu pernah ia rasakan, dengan orang yang sama juga. Berusaha mendorong, dengan kepala yang dimundurkan ke belakang untuk menghalau ciuman tersebut. Satu tarikan untuknya mundur dan dorongan lainnya didukung dengan kaki untuk membuat jeda di antara mereka.
"....", mengusap bibirnya.
"Apa maksudmu melakukan hal tersebut?", wajah masih tertunduk. Tak menyangka. "Tak cukup puas dengan tamparanmu padaku tadi?", karena sesungguhnya pria tentunya tak akan mengerti bahwa tindakan seperti itu hanya membuat sang wanita bertambah sedih. | Topic: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 11 Views: 111
| Search in: Festive Memories Subject: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir 30th June 2010, 16:24 | Hampir kembali menguap.
"Uh.."
Mengusap-usap kedua matanya, rasanya agak berat, apa karena ia sempat begadang beberapa hari sebelumnya? Ngomong-ngomong suara benturan dengan dinding sebelum dirinya membuka pintu itu suara apa ya? Mengerling sekilas ke arah dinding kiri dan kanan—tidak ada siapa-siapa selain Lio kan? Mengernyit heran terutama ketika ia kembali menatap wajah pemuda yang sudah sangat dikenalnya tersebut dan mendapati sebuah bercak aneh kemerahan di dahinya.
"Dahimu kenapa Lio?", menjulurkan tangannya untuk meraih dahi pemuda yang hampir berbeda tingginya dua puluh sentimeter dengannya tersebut. Cih, iya Shion memang pendek kok, tapi ia masih bertumbuh nanti kok—pasti. Menyentuhnya pelan dengan jari jemari miliknya yang cukup dingin. Ia lupa mengenakan sarung tangan tadi.
Menunggu hingga pemuda itu sudah benar-benar masuk ia menutup pintunya. Tidak masalah kan menutup pintu? Kalau Lio berbuat macam-macam ia tinggal bunuh saja pemuda itu. Bercanda, hanya sebagai asumsi belaka. Melangkah menuju tempat tidur miliknya, duduk disana, lalu kembali memfokuskan tatapannya pada Lio. "Duduk saja dulu, letih berdiri terus seperti itu", menunjuk tempat di sebelahnya, atau tempat tidur milik Allegra, silahkan pilih salah satu. Tentu saja Shion tak akan memperlakukan dengan lebih formal. Mereka sudah saling kenal lama, untuk apa melakukan hal seperti itu coba.
"Oh? Tidak mencari Allegra? Kukira—", karena sepertinya dua orang itu cukup dekat akhir-akhir ini.
"Begitulah apa?", mengutak-atik surainya yang sudah kembali melewati proses penumbuhan, walau masih jauh lebih pendek dari sebelum ketika Lio memotongnya dulu. Tatapan tak ia berikan untuk pemuda itu karena masih memainkan surainya. Heh? Bicara apa Lio barusan? Tidak dengar.
"Apa? Bicara yang jelas", meninggalkan surainya. "Kenapa pula dengan wajahmu?", berdiri dan mendekati Lio. Menariknya paksa untuk sedikitnya mengurangi tinggi tubuh agar sejajar dengan tinggi tubuhnya. "Demam?", menempelkan dahinya sendiri dengan dahi pemuda itu. Mengernyit bingung karena sepertinya tak ada keanehan, kalau begitu kenapa dong?
Ijin godmood narik Lio =))=)) *disepak*
| Topic: [CENTRAL] Continuation | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 15 Views: 231
| Search in: Bookman's Records Subject: [CENTRAL] Continuation 30th June 2010, 12:45 | Why? Pertanyaan pertama. How? Pertanyaan kedua. Dan perlukah ditambahkan dengan—what? Andaikan pria yang mengasuhnya semenjak ia kecil ada disini—bisakah seorang Shion mencurahkan isi hatinya yang terlampau labil akhir-akhir ini? Padahal sebelumnya ia masih dapat mempertahankan semua emosi tersebut, bahkan topeng palsu yang selalu dipakainya, masih tetap terjaga kestabilannya. Lioret Ifrit Shirogane, pemuda yang telah membuat segalanya menjadi seperti ini. Dendam? Menggigit bibir bagian bawahnya. Ia hanya seorang gadis enam belas tahun yang tak pernah diajari kasih sayang secara tulus. Gelvane menekankan hal tersebut walau ia tak paham. Seperti seorang anak kecil yang tak tahu cara mengungkapkan perasaannya selain hanya dengan mengeluarkan emosinya seperti itu. Salah keluarganyakah? Meninggalkan ia begitu tiba-tiba. Dan ya, demi surainya yang menjadi setengah sekarang—ia bahkan tak pantas menyalahkan keluarganya. Awal dari segalanya, tak mengerti kapan akan mencapai kata akhir. Hubungan yang tak ia mengerti. Bersama Allegra sama dengan teman, ia juga tak mengerti. Karena hal seperti itu hanya untuk kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain kan? Lalu apa arti saling ketergantungan itu? Andaikan seseorang dapat menjelaskannya. Kohler Mestre? Dia terlalu sibuk dengan Lio—anak didik kesayangan eh? Emosi membuatnya selalu menyalahkan. Hello? Kenapa pemuda itu malah tertawa? Mengejek? Sayangnya di hadapan ia sekarang tawa tersebut tak lebih dari sebuah konotasi negatif baginya. Masih menggigit bibirnya, kali ini lebih kuat hingga permukaan kulitnya mulai memerah dan menghasilkan setetes cairan merah yang membuktikan betapa kuatnya ia berusaha menahan emosi yang dulu tak pernah sulit ia kendalikan. Surainya— — PLAKK!"Jangan menyentuh—ku", menampar tangan yang menyentuh ujung surainya. Maaf? Maaf karena apa? Atas segalanya? Ia tidak mengerti. Hanya membutuhkan waktu untuk mengatasi semua ini, jika memang bisa. Apa yang harus ia lakukan? Hanya terduduk kembali di kursi yang sama dengan tangkupan kedua tangan pada wajahnya. Menangis? Tidak. Karena airmata sudah menghilang dalam dirinya sejak hari itu. Ih, emo banget D: Peace ah, oke? Oke? *dibakar guling* | Topic: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 11 Views: 111
| Search in: Festive Memories Subject: [Pre-Event] Lioret I. Shirogane - Shion R. Herleifursdóttir 30th June 2010, 11:14 | "Huaaahm"
Menguap kecil dengan gestur tangan kanan sengaja digunakan untuk menutup mulut yang setengah terbuka tersebut. Tidak sopan menguap tanpa ditutup dan tidak lebar-lebar jika bisa. Mengerjap-ngerjap malas di peraduannya sendiri. Pukul berapa sekarang? Tiga sore eh? Duh, waktu minum teh bagi para bangsawan—tapi tidak untuk Shion. Membolak-balik halaman demi halaman buku yang dibacanya kali ini. Buku lainnya sudah habis ia baca jadi giliran kau yang menjadi penghilang kebosanan untuknya. Misi akhir-akhir ini sepi, apalagi Lio sempat pergi waktu itu untuk kemanalah masa bodoh, tidak bilang-bilang lagi, dasar.
Pulang-pulang malah membawa ouija board. Begitu sebutannya? Apapun deh. Sekarang Allegra juga kemana lagi? Padahal ingin mengajaknya berbicara sekadar mengisi waktu. Keluar dari kamar? Tidak dengan sangat keras. Di luar suasananya sama saja, aura cinta menjijikkan melayang di atas kepala masing-masing individu dalam menyambut acara pesta dansa nanti. Sebegitu semangatnya? Ah ya katanya memang bisa bertemu dengan cabang lainnya juga sih. Tapi ia tidak terlalu tertarik. Karena tidak ada yang mengajaknya begitu? Menyedihkan. Bukan mungkin karena pada dasarnya ia sendiri kurang menyukai menari formal dengan gaun yang gatal rasanya.
Beda lagi sih kalau—
—ah tidak, tidak.
Ia ngantuk ngomong-ngomong, haruskah ia tidur saja sekarang? Mungkin pilihan bagus mengingat ia tak sedang melakukan apa-apa. Hingga ketukan di pintu terdengar. Mengangkat kepalanya untuk sesaat. Siapa coba? Allegra-kah? Sopan memang tapi bukannya Allegra biasa langsung masuk dengan barbar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Oke, itu yang ia ingat sih, maafkan kalau salah. Inginnya tak mempedulikan, tapi ya sudahlah, mungkin bisa ia seret orang yang mengetuk itu untuk menemani kebosanannya. Perlahan berdiri dan berjalan ke pintu, membukanya.
"Lio?"
Baru menyadari suara memanggil namanya itu suara Lio.
Otaknya dihinggapi rasa kantuk hingga tak menyadari.
"Ada apa?", menatap dalam diam. Setelah semua kejadian ini, yea. "Mau masuk dulu? Allegra tidak ada lho kalau kau mencarinya", membuka pintu untuk mempersilahkan, eh tapi etiket tak membenarkan hal ini kan? Terserah deh mau masuk atau tidak, Shion hanya mempersilahkan. Dan tolong soal etiket jangan dulu deh, ia sedang ngantuk. | Topic: Daftar Visualisasi | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 82 Views: 2115
| Search in: Registration Room Subject: Daftar Visualisasi 30th June 2010, 10:32 | Menambahkan visualisasi real, bolehkah? Nama Karakter: Shion R. Herleifursdóttir Visualisasi: Ren Si Lu -- asal? Tak tahu ada dimana-mana *plak*
| Quote: | | Mempunyai rambut berwarna pirang lurus sepanjang pinggang yang dibiarkan terurai, dan mempunyai mata berwarna aquamarine. |
Dikutip dari kolom Penampilan Shion Raselleane Herleirfursdottir.
- Karakter boleh tetapi tidak diharuskan memiliki dua versi visualisasi (versi ilustrasi dan versi orang nyata), namun kedua visualisasi tidak boleh memiliki penampilan yang drastis berbeda (contoh: visualisasi dua-dimensi memiliki rambut pirang, sementara visualisasi sosok nyata memiliki rambut hitam).
Dikutip dari ketentuan pada halaman pertama. | Topic: [PENTING!] Penghapusan Karakter Inaktif | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 8 Views: 245
| Search in: Announcement Board Subject: [PENTING!] Penghapusan Karakter Inaktif 30th June 2010, 10:28 | Nama: Shion Rasselleane Herleifursdóttir Tautan topik: Continuation, Jelangkung? Let's Play!, dan [Pre-Event] | Topic: [CENTRAL] 'Jelangkung'? Let's Play! | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 3 Views: 130
| Search in: Incomplete Tales Subject: [CENTRAL] 'Jelangkung'? Let's Play! 4th June 2010, 16:43 | "Allegra?"
Melongok ke dalam, melihat ruangan kamar tempatnya berbagi tempat dengan sesama exorcist yang lebih tua empat tahun darinya tersebut. Tidak ada, hmm, kemana dia? Mengambil gestur jari telunjuk ditaupkan ke bibir, berpikir kemungkinan lain dimana gadis yang lebih dikenal dengan sebutan barbar itu berada. Barbar karena kekuatannya katanya, hmm, lihat nanti mungkin. Menutup kembali pintu ruangan tersebut dan memilih untuk melangkahkan dirinya menuju tempat manapun yang bisa menghapus rasa bosannya.
Lio sedang dalam misi kalau tidak salah? Ia sendiri lupa kapan pemuda itu pulang dari misinya tersebut. Tapi ah, kemana semua orang? Tidak adakah yang bisa dijadikan permainan bagi seorang Shion sekarang? Ia bosan, buku yang ia miliki sudah hampir ia baca semuanya. Dan jangan katakan padanya untuk pergi ke perpustakaan sekarang karena ia sedang tak ada keinginan untuk melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Penat saja rasanya berada di perpustakaan terlalu lama.
Misi baru, tidak ada ya?
Uh-hm, ke ruangan infirmary saja mungkin? Meminta cokelat buatan Gaby sekaligus mengadakan dialog dengannya. Ya, itulah tujuannya pertama kali ketika entah kenapa haluannya berputar untuk mengarah ke ruang santai markas cabang Eropa ini. Di ruang santai sepertinya tidak ada apa-apa? Terlebih karena tidak ada yang sesuatu yang seru disana. Atau mungkin--ya, kita ubah dugaan tersebut ketika secara tak sengaja sepasang bola mata aquamarine miliknya menangkap sesosok pemuda yang cukup ia kenal dengan baik.
"Lio!"
Spontanitas untuk memeluk pemuda itu dari arah belakang. Ah, ngomong-ngomong apa itu benda yang tengah diamati Lio? Sebelumnya tak terlalu peduli akan hal tersebut karena lebih mementingkan mainan baru yang akhirnya tersedia untuknya. "Kapan pulang dari misi? Kok tidak mengatakannya sih", menggembungkan pipi kesal. Fuh, kembali pada mode awal, secara sudah lama tak menggunakan sifat macam ini. Eh ada pemuda lain disitu juga, ia baru sadar. Ia hanya tahu pemuda itu adalah seorang finder, nama? Lupa sepertinya.
"Bermain?", sekilas mendengar beberapa patah kata pemuda tersebut. "Itu papan apa memangnya Lio?", masih dalam keadaan memeluk pemuda kenalannya tersebut.
OOC: Diijinkan godmood memeluk u_u | Topic: [CENTRAL] Continuation | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 15 Views: 231
| Search in: Bookman's Records Subject: [CENTRAL] Continuation 3rd June 2010, 22:36 | Haruskah ia senang—
—atau marah?
Memangnya kenapa kalau hubungan mereka terlihat seperti kakak-adik, atau malah seperti kekasih? Tak ada harapan lebih, pastinya pemuda ini juga menganggap tak lebih selain predikat sebagai seorang kakak, melihat gadis kecil yang perlu dikasihani di hadapannya—dan sebagainya. Dikasihani? Mengernyit. Entah kenapa ia sangat membenci kata seperti itu, membuat masalah saja, Shion masih kecil katamu? Huh, kita lihat nanti, hanya karena lebih muda saja. Cih, karena itu ia benci usia terlampau muda. Dan sebaiknya—kita sudahi saja permainan rumah-rumahan konyol ini. Tak menyangka dapat membela seseorang yang sempat kau anggap sebagai seorang kakak lelaki?
Yang benar saja.
Sendirian juga tak masalah.
Ia juga benci staf yang memperlakukannya dengan baik. Ah ya, semua orang akan dengan senang hati tentunya diperlakukan dengan penuh keramahan seperti itu, tapi tidak dengan dirinya. Hanya membuat lemah, tidak menyadari dampak dari perbuatan tersebut nantinya. Ayahnya yang meninggal dengan meninggalkan memori tidak perlu berupa kasih sayang. Tinggal disini tentunya tak akan memerlukan hal macam itu, ia yakin akan hal tersebut. Kasih sayang membuahkan kekuatan? Tak pernah mendengar hal tersebut dari kamusnya, biar saja. Emosi eh? Sesuatu yang berkecamuk, padahal terbiasa hanya tersenyum atas semua perasaan kemanusiaan tersebut.
Kembali lagi, lucu sekali.
"Itu sindiran Lio?", maaf dia sudah tak ada minat untuk tersenyum lagi sekarang. Semua kejadian hari ini sudah benar-benar membuatnya muak. Awalnya memang sempat mereda, terutama pada saat Lio membawanya kemari. Tapi tidak setelah candaan dangkal, perlakuan seorang perempuan sok tahu padanya dan—berujung ke hal seperti ini.
"Maaf saja kalau otakku sudah bergeser, aku tak akan pernah menginjak tempat ini, dan itu berarti tak akan pernah bertemu denganmu", kali ini berdiri, memilih duduk terus-menerus hanya membuat pegal, sandiwara diakhiri sekarang juga. Harusnya itu yang ia lakukan sejak semula.
"Bukankah menyenangkan? Kau tidak akan pernah bertemu gadis sepertiku, dan ya, dan aku pun tidak akan pernah bertemu pemuda sepertimu", fuh. Hell, kemampuan kita tidak setara? Lihat dari hasil pertarungan ketika itu? "Hmph, kaulah yang pingsan duluan ketika itu Lio, bukan aku", kali ini tersenyum, ya~ senyum mengejek khusus untukmu, Lio tersayang. Tak tahukah kau bahwa Shion akan dengan senang hati ditampar untuk kedua kalinya jika kejadian tadi kembali terulang sekarang?
"Mau menamparku lagi?", pandangan tajam. Tidak direspon seperti yang tadi dilakukan? Kita lihat saja nanti. Sementara itu tak menggubris staf wanita yang mulai terlihat panik akan suasana yang mulai tercipta sedemikian rupa untuk sebuah perdamaian kembali retak kini. Sudah terlanjur, sekalian saja dijatuhkan sekalian. Kh, inikah yang ia inginkan?
Tidak tahu.
((OOC: Maaf uda lama ga mainin Shion, ada yang aneh? Maklumkanlah B-) *plak*)) | Topic: [CENTRAL] Continuation | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 15 Views: 231
| Search in: Bookman's Records Subject: [CENTRAL] Continuation 25th February 2010, 21:49 | Sekali ia tidak suka ya tidak suka, tidak ada yang boleh membantahnya bukan? Ia hanya tidak menyukai jika seseorang yang sudah ia anggap keberadaannya diperlakukan bukan atas kehendaknya, sudah sifatnya seperti itu dan patut disyukuri jika kau merupakan salah satu orang yang dianggap seorang Shion karena gadis muda ini tak akan sembarangan memilih orang, mungkin tak berlebihan jika ia tak pernah sungguh-sungguh menjalin relasi dengan siapapun bahkan untuk ukuran teman sekamar atau partner kerja. Hubungan yang ia pilih tak sedangkal itu, sampai saat ini saja berapa orang yang termasuk di antaranya masih masuk dalam hitungan lima jari.
Sederhana saja, karena hubungan manusia itu tak kekal, bahkan sangat rapuh.
Dan dia termasuk orang yang menganut prinsip bahwa relasi hubungan bukanlah sesuatu yang amat penting. Ia juga tahu bahwa ia masih makhluk sosial, yang tak akan dapat hidup tanpa kehidupan lain di sekitarnya, bayangkan saja jika Gelvane kennari tak mengurusnya ketika itu dan ketika Sigfried bahkan tak mengindahkan keberadaannya. Ia tak akan menjadi seperti yang ada sekarang ini bukan? Walau dari segi mental tentu saja dirinya bahkan tak kalah labilnya dengan seorang gadis cilik yang mudah terguncang dengan kenyataan yang memutar penuh apa yang dipahaminya selama ini.
Bahkan ketika menyadari sebuah sosok keibuan itu, ia tetap tak bergeming pada tatapan tajam dan sikap dingin yang masih dipilihnya. Tentunya ia juga lahir dari rahim seorang perempuan, tapi tidak, selama ini yang mengasuh dan membantunya adalah lelaki, Shion sudah lupa apakah itu yang disebut kasih terhadap Ibu. Bah, tak terbayangkan jika kelak ia benar-benar mendapatkan seorang pasangan yang akan bersanding di depan altar putih suci nantinya, ia sama sekali tak cocok untuk menjadi seorang yang berpredikatkan hal macam tersebut. Setidaknya hal itu masih cukup jauh untuk dipikirkan, memangnya sekarang ini juga ia mempunyai orang yang disukai?
Entah kenapa sebuah kerlingan kecil tertuju pada sosok pemuda tersebut. Tidak, tidak, naif sekali berpikir bahwa dialah orangnya. Bukankah Lio sendiri juga hanya menganggap Shion hanya sebagai adik belaka? Dan ya, rasa ketidak sukaannya ketika staf perempuan itu melakukan sesuatu terhadap Lio tidak lain juga karena rasa seorang adik yang tak suka kakak lelakinya diperlakukan macam begitu kan? Mungkin malah terlalu buta, padahal hanya sentilan kecil di tangan, apalagi si staf juga sebenarnya bukan menyalahkan si gadis exorcist belia ini.
"Yea, kelihatannya seperti itu, sama sekali bukan.."
Menyangkal. Namun pita suara terasa tercekik ketika mengatakannya. Ah sudahlah Lio sendiri juga tak akan suka dengan anggapan yang baginya tidak penting itu kan? Bahkan ketika acara pengompresan masih terus berlanjut dengan si staf perempuan yang masih tersenyum lembut, sayangnya masih membuat Shion bergeming dengan kekeras kepalaannya. Mendengus dan mengernyit ketika mendengar lontaran pertanyaan selanjutnya dari Lio yang benar-benar tidak sopan.
"Maaf?"
Menatap.
"Oh ya mungkin saja tamparan itu terlalu keras hingga membuat otakku bergeser, haha, lucu sekali, sayangnya kemampuanku masih setara denganmu Lio", tak bermaksud mencari pertengkaran walau pada akhirnya malah berujung pada hal yang serupa. Ah, apa kejadian di lorong harus kembali terjadi lagi untuk kedua kalinya? Suasana hatinya sekarang benar-benar aneh, semua juga berasal dari peristiwa pertarungan itu, sepertinya efeknya masih terbawa sampai sekarang.
Ia harus pergi sejauh mungkin dari orang-orang kalau perlu.
—untuk mengembalikan emosinya. | Topic: [CENTRAL] Continuation | Shion R. Herleifursdóttir
Replies: 15 Views: 231
| Search in: Bookman's Records Subject: [CENTRAL] Continuation 28th December 2009, 11:01 | Tak terpikirkan kembali alasan macam apalagi yang harus diutarakannya, ia hanya tidak ingin memperbesar masalah jika bisa. Walau begitu, memang salah jika kita berbohong di depan pakarnya, gadis staf medis yang sudah menatap curiga dan mendengus berkata bahwa luka seperti ini bukanlah seperti luka alasan yang diutarakan Shion. Yah, terserahlah, sama-sama sakit ini baginya yang manapun kok. Memilih untuk melanjutkan kembali kegiatan pengompresan itu. Diam, takkan berkata yang sebenarnya walau dipaksa sekalipun. Tapi ternyata pelakunya malah mengaku duluan. Dan adegan tamparan mendarat di tangan Lio yang melambai. Menatap tajam gadis staf medis tersebut, berani benar ia melakukan hal tersebut tepat di hadapannya. Tidak bisa begitu. "Anda tidak berhak memukulnya, saya duluanlah yang memulai" Berdiri tepat di hadapan gadis staf medis itu, tak takut untuk memberikan sebuah perlawanan. Tapi kalimat staf medis tersebut selanjutnya sukses membuatnya langsung kembali terdiam. Bongkah es batu masih bersentuhan dengan kulit wajah putihnya yang berubah warna menjadi memerah. Kekasih? Tidak salah tuh? Bahkan Lio sendiri sepertinya tidak mengerti apa maksud gadis-yang-seenaknya-mengklaim-seperti itu. "Kekasih? Darimana kau mendapatkan dugaan tersebut?" Masih menatap tajam. Tak menerima apa yang terjadi tadi, kalau itu seseorang yang lain tentunya tidak akan dipedulikan, tapi ini Lio. Rona merah hampir menjalar untuk sesaat ketika mendengar istilah itu tadi, tapi dengan mudah langsung kembali menghilang secepat rona merah tadi muncul, tidak mungkin kakak-adik menjadi sepasang kekasih kan? Pikiran polos yang membuatnya teguh tak mempedulikan arti kekasih barusan. "Ya.. terimakasih.." Menolak kehadiran tangan lain yang mengelus lembut tangannya, senyum keibuan. Ia tidak pernah merasakan senyum seperti itu karena tak pernah melihat sosok seorang ibu yang meninggal ketika ia dilahirkan. Bahkan kata keibuan saja tak dapat ia pahami, ia hanya mempercayai ayahnya, Gelvanekennari, dan Kohler Mestre sebagai orang yang dihormati, dengan Lio sebagai tambahan sekarang. Tapi untuk orang terakhir tentunya takkan diperlihatkan mengingat harga diri yang ia miliki. Apakah nyaman berada di palungan ibu? Senyumnya yang lembut. Hanya khayalan semata. |  | |
|
|